Suatu hari wartawan Tegalraya.com jalan- jalan menelusuri kawasan pegunungan selatan kabupaten Tegal, kawasan ini ada 3 kecamatan Jatinegara,Bojong dan Bumijawa pemandangan yang indah dan subur.
Saat di desa Kedungwungu kecamatan Jatinegara, kabupaten Tegal Jawa Tengah,wartawan Tegalraya.com mengunjungi TPQ dan majlis ta'lim setiap Sabtu yang di pimpin ustad sekalus pimpinan TPQ desa Kedungwungu. Ustad Daim Dengan Kyai Kampung warga NU, lengkap Dengan senyuman ramah, khas kyai Kampung,dengan sarung dan berpeci menemui wartawan Tegalraya.com
Nuansa dingin, ditambah mendung hujan rintik-rintik menikmati kopi dan rokok, serta makanan (baca Tegal: lawuh wedang). Serasa nikmat dan nuansa pedesaan pegunungan itu. Desa yang tentram rasa kenikmatan sang Pencipta. Dengan pohon- pohon penyejuk hati yang menghijau di kompleks madrasah itu.
Berikut sekilas cerita tentang bendera merah-putih dan bendera anu yang diapit dengan senyum alm.Gus Dur. Sekitar 15 tahun bendera setengah tiang dan bendera NU sampai hari ini belum diturunkan di ruangan majlis Talim.
Disamping bendera NU dan Merah Putih, da foto Alm Gusdur, Gus Mi dan Gus Aqib pengasuh ponpes Babakan. Ustad Daim yang merupakan alumni PP.Babakan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ponpes Babakan termasuk Pesantren termasuk tua di kawasan pantura itu.
Kata Ustad Daim," Foto bendera NU dan merah putih ini adalah sejarah, ketika bertepatan dengan hari Almarhum Gus Dur meninggal dunia saya pasang bendera setengah tiang bendera putih di pasangkan bareng bendera NU sampai hari ini belum di turunkan bendera itu."
Lanjut Ustad Daim , Setiap di sawah dan sore mengajar anak anak di madrasah TPQ ini sebagai tanda pengingat Gus Dur sebagai ulama dan pemimpin bangsa Indonesia, yang sudah memperjuangkan masyarakat Indonesia dan bahkan masyarakat dunia dalam hal kemanusiaan."
"Saya Pecinta Gus Dur, ini alasan bendera setengah tiang ini," Kata Ustad Daim. lanjut nya, "sampai kapanpun tidak dilepas atau diturunkan sampai bendera ini rusak atau robek, tetap berada di madrasah TPQ tempat ini,"
Ustad Daim mengajar di ruang Majlis Talim Atthiriyah Nurul Qolbi Kedungwungu, Jatinegara kabupaten Tegal."Cultur studi, atau budaya santri yang tadim dengan ajaran ulama masih melekat dan tidak pupus di telan jaman. Murid dengan guru, santri dengan Guru Kyai, rakyat dengan pemimpin negeri.
Ilmu hikmat dan ta'dim kepada Kyai menjadi modal kekuatan kebudayaan masyarakat Nusantara. Wartawan Tegalraya.com pulang dengan pamit, dan merasa haru dan bangga luar biasa dengan kyai kampung bernama ustad Daim itu.(01/Eko)