Wujud kerja keras perlu dicontoh, sosok Abah Amid tiap Agustus, saya kecuali menjual bendera, otomatis ikut mengibarkan bendera merah putih sebagai bukti cinta negeri. Berjualan dipinggir Jl.Ir. H.Juanda, Trayeman, kabupaten Tegal, tepat diarea tikungan yang biasa disebut warga “buah naga”, Abah Amid duduk diatas kursi plastik.
Didepannya terbentang deretan bendera Merah Putih berbagai ukuran. Dari yang kecil untuk motor, sampai bendera bekron 9 meter yang menjulang.
Abah Amid Kelahiran Desa Cipancar, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, 1955. Kini domisilinya dekat pom bensin Procot, Kudaile. Sekolahnya hanya sampai kelas 3 SD. Tapi semangatnya tentang kemerdekaan, tidak pernah putus. “Waktu kecil nggak bisa lanjut sekolah. Tapi saya ngerti satu hal.
Pesan pedagang bendera itu, " Merdeka itu bukan cuma 17 Agustus. Merdeka itu kalau rakyatnya bisa makan, bisa usaha, nggak dipersulit,” ujar Abah pelan, sambil merapikan bendera kain 1,2 meter yang dibanderol Rp 25.000.
17 tahun Abah berjualan bendera lamanya, Sejak 2009. Setiap masuk bulan Juli, Abah mulai menggelar lapak. Tahun ini lapaknya pindah-pindah, akhirnya menetap di Trayeman.
Daftar harga jualannya sederhana dan jujur harga Bendera 1 M*: Rp15.000, Bendera 1 M kain, Rp20.000, Bendera 1,20 M kain, Rp25.000, Bendera 1,20 M satin biasa Rp22.000, Bendera bekron Garuda 9 M Rp200.000, Bendera bekron kombinasi kain 5 M*: Rp125.000, Bendera bandir 5 M*: Rp60.000, Bendera bekron mini 4 M*: Rp125.000, Bendera umbul-umbul*: Rp17.000
“Saya nggak mau nipu, yang mampu beli yang mahal, silakan yang pas-pasan, ambil yang kecil. Yang penting rumahnya ada merah putihnya,” katanya.
Tahun ini dagangannya terasa lebih berat. “Saingan sama online, Nak. Di HP orang bisa pesan, dikirim ke rumah. Saya disini kepanasan, kehujanan,” ucapnya sambil menunjuk dagangan yang mulai pudar kena matahari.dengan nada suaranya bergetar, bukan karena lelah. Tapi karena kecewa.
“Sedih rasanya kalau pemerintah kurang memperhatikan rakyat kecil seperti saya. Kami juga mau merdeka, Merdeka dari susah, Merdeka dari takut nggak laku. Hari kemerdekaan itu harusnya rakyatnya juga ikut merdeka,” ujarnya. Matanya berkaca, tapi punggungnya tetap tegap.
Bagi Abah, menjual bendera bukan sekadar cari uang. Itu caranya ikut upacara. Caranya menghormati para pejuang Republik Indonesia yang dulu berdarah-darah agar kita bisa berdiri di negeri sendiri.
“Setiap saya jual satu bendera, saya doakan di rumah itu damai. Itu cara saya ikut menjaga Indonesia,” katanya.
Kini di usia 71 tahun, Abah masih rutin berangkat dari Kudaile ke Trayeman setiap pagi. Jalan kaki kalau ongkos nggak ada. Demi selembar merah putih yang ia yakini bisa menghidupkan rasa cinta tanah air.
Bagi warga Tegal dan sekitarnya yang ingin membeli langsung atau memesan, bisa menghubungi *Abah Amid di 0813-2076-9898.
Ditengah hiruk pikuk diskon e-commerce dan spanduk digital, di tikungan itu masih ada seorang kakek yang dengan tangan tuanya, menjahitkan kemerdekaan meter demi meter.
Karena mungkin, makna kemerdekaan yang sesungguhnya bukan di pidato. Tapi di lapak sederhana, di tangan orang yang tetap memilih bertahan. Merdeka.!!
Penulis: Masykuri
Editor: Eko Wahyudi