Kisah sukses perjuangan H.Unang Tegal

*NASKAH BERITA*  
*Judul: Dari Karyawan Toko ke Bos Rongsok: Kisah Sukses H. Unang yang Berawal dari Modal Rp6 Juta*  
_Wawancara: Jumat, 17 Juli 2026, Pukul 18.30 - 21.30 WIB | Kediaman H. Unang_

---

*TEGAL* - Tidak ada kesuksesan yang datang secara instan. Begitulah kisah yang dituturkan H. Unang, pengusaha besi rongsok asal Tegal yang kini menjadi salah satu bos rongsok yang disegani di wilayahnya. Perjalanan panjangnya dimulai dari nol, sebagai karyawan toko biasa, hingga akhirnya membangun usaha sendiri dengan kerja keras dan doa.

Dalam wawancara di kediamannya, Jumat malam 17 Juli 2026, H. Unang mengenang awal mula ia terjun ke dunia usaha. 

"Saya berawal dari karyawan toko. Setelah berkeluarga, saya berpikir bagaimana caranya dapat pendapatan lebih. Karena gaji karyawan itu terbatas," kenangnya.

### *Berawal dari Jual Roti Keliling Jam 3 Pagi*

Langkah pertama H. Unang bukan langsung ke rongsok. Ia mencoba membantu penjualan di pabrik roti milik keluarga di daerah Balapulang. Setiap malam ia mengambil 15-20 keranjang roti. 

"Jam 03.00 pagi saya sudah datang. Habis shalat Subuh jam 05.30 langsung keliling ke warung-warung, sampai keluar daerah. Itu saya jalani 3 bulan," ujarnya.

Setelah itu ia sempat mengajak beberapa teman untuk ikut berjualan. Namun hasilnya tidak maksimal karena ia sendiri yang harus membimbing. Dari situlah ia mulai berpikir untuk mencari usaha lain yang lebih pasti.

### *Titik Balik: Tawaran Besi Bekas Pabrik Roti*

Momen yang mengubah hidupnya datang secara tidak terduga. Pabrik roti tempatnya menitipkan roti hendak menjual sisa-sisa bangunan. Kebetulan mertua H. Unang bekerja di bidang pengecoran di Kuningan sehingga ia sedikit memahami soal besi.

"Saya coba tawar. Alhamdulillah masuk. Kita angkut, kita bongkar di rumah. Dari modal Rp6 juta, setelah barang habis untung bersihnya Rp4-5 juta. Hampir 1000 persen," ceritanya sambil tersenyum.

Dari keuntungan itulah ia dan keluarga bermusyawarah. Memilih tetap menjadi karyawan dengan gaji pasti, atau fokus di usaha rongsok yang hasilnya tidak pasti. 

"Akhirnya saya putuskan bismillah, fokus di rongsok. Pesan orang tua saya cuma satu: jaga timbangan. Karena keberkahan itu di situ," tegasnya.

### *2 Tahun "Tidur" di Tempat Usaha*

Perjalanan tidak selalu mulus. Selama 2 tahun pertama, H. Unang mengaku hampir menyerah dan ingin kembali jadi karyawan. Namun dukungan istri membuatnya bertahan.

"Saya pernah mau balik jadi karyawan. Istri bilang 'coba lagi'. Itu jadi penyemangat saya," ucapnya.

Ia bahkan sempat mengalami kerugian besar hingga harus menjual aset untuk menutupi. Salah satu pelajaran pahit adalah soal kepercayaan dan manajemen. 

"2019 kami masih ngontrak. Saya kerja hampir 24 jam. Jam 8 malam sampai jam 3 pagi jaga barang. Jam setengah 8 pagi berangkat lagi sampai sore. Tidak ada istilah bos, yang ada kerja bareng," katanya.

Lingkungan sekitar pun awalnya memandang sebelah mata. Namun H. Unang tidak patah semangat. Ia terus belajar dari orang yang lebih berpengalaman dan akhirnya mendapat arahan untuk fokus pada mesin, kardus, plastik, dan besi, bukan barang campur.

### *Kunci Sukses: Niat, Kerja Keras, dan Doa*

Kini, setelah bertahun-tahun berjuang, usaha H. Unang sudah jauh berkembang. Ia mempekerjakan karyawan dan memiliki tempat usaha sendiri.

Bagi H. Unang, ada 3 kunci utama dalam berusaha:
1.  *Niat yang lurus*. "Usaha harus untuk rezeki yang halal."
2.  *Kerja keras dan jujur*. "Jaga timbangan dan komitmen. Kalau kepercayaan dari relasi sudah pudar, susah balikinnya."
3.  *Doa dan berbakti kepada orang tua*. "Kesuksesan itu awalnya dari pengabdian dan bakti kepada orang tua. Jangan lupa minta kepada Allah."

Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak menyia-nyiakan waktu. "Banyak pemuda mumpung masih muda dipakai senang-senang. Padahal usaha itu tidak mengenal batas usia. Yang penting mau kerja keras," pesannya.

Dari seorang karyawan toko dengan gaji pas-pasan, kini H. Unang membuktikan bahwa dengan sabar, jujur, dan pantang menyerah, rezeki akan mengikuti. 

"Alhamdulillah, semua ini nikmat dari Allah. Kalau dibanding orang lain, kita belum ada apa-apanya. Tapi saya bersyukur," tutupnya

_Reporter: Masykuri
_Editor: Eko Wahyudi, M. Hum