Oleh: Maadah S.Pd,I
Mahasiswi Pascasarjana UIBN (Universitas Islam Bhakti Negara tegal Tahun 2026 (Mata Kuliah: Psikologi Pendidikan Islam, Fakultas Manajemen Pendidikan, Jurusan Pendidikan Agam Islam(PAI)
A.Latar belakang:
Alhamdulillah, latar belakang penulis membuat makalah ini adalah sebagai wujud penghargaan kepada pendiri dan pengasuh MDTA Miftahuttolabah Desa Penyalahan, Jatinegara kabupaten Tegal, selain itu MDTA ini merupakan simbol pendidikan agama atau tanda nilai perjuangan masyarakat desa Penyalahan. Penulis lahir di desa ini, Penulis juga merasakan pendidikan MDTA pada tahun 1994 atau waktu kelas 5 SD. MDTA ini bagi saya sekolah agama berbasis NU, sebagai rasa penghormatan keilmuwan pendidikan agama Islam para ulama NU.
B.Pengertian motivasi :
Motivasi adalah: Motivasi adalah bagian dari pskilog manusia, kami penulis menc`oba memberikan penggertian motivasi, dalam ilmu psikologi, sesuatu yang bisa memberikan manfaat dan tujuan kebaiakan dalam perabdan manusia.
Secara etimologi, kata "motivasi" berasal dari bahasa Latin movere, yang berarti "menggerakkan" (to move). Dalam konteks psikologi dan pendidikan, motivasi dipandang sebagai kekuatan internal atau eksternal yang mendorong seseorang untuk bertindak, mengarahkan tindakan tersebut, dan mempertahankan kegigihannya untuk mencapai tujuan tertentu.
Berikut adalah beberapa pengertian motivasi menurut para ahli yang bersumber dari buku-buku referensi otoritatif:
1. Motivasi sebagai Penggerak dan Pengarah Perilaku
Dalam buku psikologi pendidikan yang sangat populer, Santrock menjelaskan bahwa motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan pada perilaku seseorang. "Motivasi melibatkan proses-proses yang memberi energi, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama."(Santrock, 2018, hlm. 414)
2. Motivasi sebagai Kondisi Fisiologis dan Psikologis
Dari sudut pandang psikologi umum, Suryabrata menjelaskan bahwa motivasi merupakan keadaan dalam diri individu yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu demi memenuhi kebutuhannya.
"Motivasi adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan."(Suryabrata, 2011, hlm. 70)
3. Motivasi dalam Konteks Belajar (Motivasi Belajar)
Sardiman, dalam bukunya yang sering menjadi rujukan utama penelitian pendidikan di Indonesia, memfokuskan motivasi dalam ranah belajar sebagai motor penggerak utama siswa."Motivasi belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai." (Sardiman, 2016, hlm. 75)
Motivasi berdirinya dan terus aktifnya MDTA Miftahuttholabah di Dukuh Santa, Desa Penyalahan, Jatinegara pada dasarnya berakar kuat pada nilai-nilai perjuangan sosial, keagamaan, dan budaya masyarakat Kabupaten Tegal.
Berdasarkan Riset penulis di lapangan bertemu dengan pengurus atau pengelola para ustad dan sutadzah, ada beberapa catatan sebagai berikut, adalah beberapa motivasi utama yang melandasi eksistensi madrasah diniyah ini:
a. Membentengi Akidah dan Akhlak Anak-Anak sejak Dini
Di tengah gempuran arus teknologi dan modernisasi saat ini, anak-anak usia SD/MI sangat rentan terpapar pengaruh luar. Motivasi utama para pendiri dan pengajar MDTA Miftahuttholabah adalah memberikan benteng spiritual. Melalui pembelajaran dasar ibadah, tauhid, dan akhlakul karimah (akhlak mulia) di sore hari, anak-anak di Desa Penyalahan memiliki kompas moral yang kuat dalam kehidupan sehari-hari.
b. Mempertahankan Tradisi Literasi Keagamaan (Tafaqquh Fiddin)
Bagi masyarakat pedesaan di Kabupaten Tegal yang kental dengan budaya agamis, bisa membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar dan memahami kitab-kitab dasar (seperti Aqidatul Awam atau Fasholatan) adalah sebuah keharusan.
Motivasi Akademis-Keagamaan: Menjaga agar generasi penerus di Dukuh Santa tidak buta aksara hijaiyah dan mampu menjalankan ibadah fardu ain (seperti salat dan bersuci) secara sah dan mandiri.
c. Mengisi Waktu Luang Sore Hari dengan Hal Positif
Setelah anak-anak pulang dari sekolah formal (SD atau MI) pada siang hari, sore hari sering kali menjadi waktu yang rawan jika tidak diarahkan. MDTA hadir sebagai wadah kegiatan yang produktif.
Motivasi Sosial: Menghindarkan anak-anak dari ketergantungan berlebih pada gawai (smartphone) atau pergaulan di luar rumah yang kurang terkontrol, dengan mengalihkan energi mereka ke dalam lingkungan belajar yang hangat dan penuh kebersamaan.
4.Menjaga Keberlangsungan Kultur Keislaman Lokal (Ahlussunnah wal Jama'ah)
Sebagai lembaga yang umumnya berafiliasi dengan kultur keagamaan lokal (NU/Ahlussunnah wal Jama'ah), MDTA Miftahuttholabah memiliki motivasi sosiologis untuk melestarikan tradisi ibadah lokal, seperti tahlilan, yasinan, selawatan, dan penghormatan yang tinggi kepada orang tua serta guru. Hal ini penting untuk menjaga harmoni sosial di Desa Penyalahan.
5. Pengabdian Masyarakat (Khidmah) para Tokoh Agama dan Pemuda
MDTA tidak akan bisa aktif dan terdaftar resmi tanpa adanya motivasi khidmah (pengabdian tanpa pamrih) dari para ustaz, ustazah, tokoh masyarakat, dan wali murid di Dukuh Santa. Kesadaran kolektif bahwa "mendidik anak adalah tanggung jawab bersama" membuat masyarakat gotong royong menjaga madrasah ini tetap hidup, meskipun dengan fasilitas yang sederhana.
C. MDTA Miftahuttholabah Dukuh Santa Desa Penyalahan, Jatinegara , kabupaten Tegal
MDTA Miftahuttolabah desa Penyalahan yang terletak di Dukuh santa ini adalah sebuah aset pendidikan yang luar biasa, sampai hari ini masih berjalans ebagai pusat pendidikan agama islam untuk anak anak usia TK dan SD ( sekolah pagi). Sekolah ini di selenggaran sore hari antar pukul 13.30 WIB sampai dengan 16.00 WIB setiap hari kecuali hari jumat libur.
Singkatan dari MDTA adalah Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah.Berikut adalah penjelasan singkat mengenai arti dari istilah tersebut. Madrasah: Sekolah atau tempat belajar (khususnya agama Islam)
Diniyah: Bersifat keagamaan Takmiliyah: Bersifat pelengkap atau penyempurna (karena fungsinya melengkapi pendidikan agama yang didapat di sekolah umum seperti SD atau MI).Awaliyah: Tingkat dasar atau pemula (biasanya ditempuh selama 4 tahun oleh anak-anak usia sekolah dasar/tingkat awal). Secara umum, MDTA adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam nonformal.
MDTA Miftahuttholabah dengan alamat lengkap Dukuh santa Rt 23 Rw 03, Desa Penyalahan Kecamatan Jatinegara Kabupaten tegaal adalah pendidikan agama islam yang di adakan keagamaan sore (madrasah diniyah berbasis NU) dengan nomor statistik 311233280039 yang di kepala Madrasah oleh Ustad Milad, sekitar 60 murid laki dan perempuan, sudah berjalan selama 15 tahun lebih pada tahun 2026 ini, ad sekitar 8 Ustad dan Sutadzah lulusa pondok pesantren, dengan ruang kelas 5 kelas, berjalan dengan kegiatan sore. Anak anak yang masuk antara umur SD-SMP sekolah pagi atau sekitar umur 5 tahun, sampai dengan 14 tahun. Dengan diadakan wisuda atau akhirusannah setiap tahun dengan diadakan pengajian dan kesenian mengundang para orang tua murid MDTA dan pemerintah desa.
D.Psikologi Pendidikan Agama Islam
1.Psikologi Pendidikan Agama Islam (PPAI) adalah cabang ilmu psikologi yang secara khusus menyelidiki, menganalisis, dan membahas perilaku manusia (baik pendidik maupun peserta didik) dalam proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam.
Ramayulis dalam bukunya menjelaskan bahwa PPAI tidak bisa dilepaskan dari upaya membentuk kepribadian muslim yang utuh (kaffah):"Psikologi Pendidikan Islam adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan Islam, guna memberikan landasan bagi pendidik dalam membimbing perkembangan jiwa anak didik ke arah tujuan pendidikan Islam, yaitu terbentuknya kepribadian muslim."(Ramayulis, 2018, hlm. 12)
2. Hakikat dan Karakteristik Unik PPAI
Perbedaan mendasar antara psikologi pendidikan konvensional (barat) dengan Psikologi Pendidikan Agama Islam terletak pada landasan epistemologinya. Jika psikologi konvensional hanya mengakui dimensi empiris-positivistik (aspek kognitif, afektif, psikomotorik), PPAI mengintegrasikan dimensi ruhiyah (spiritual) yang bersumber dari wahyu Allah.
Muhaimin menjelaskan urgensi pemahaman psikologi dalam pembelajaran Agama Islam sebagai berikut:"Pendidikan Agama Islam bukan sekadar mengajarkan pengetahuan tentang Islam secara kognitif, melainkan menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam jiwa peserta didik. Oleh karena itu, pendidik membutuhkan psikologi untuk memahami kesiapan mental, tingkat perkembangan iman, serta hambatan-hambatan psikis yang dialami anak dalam menerima nilai-nilai ketauhidan."(Muhaimin, 2019, hlm. 84)
3. Aspek-Aspek Kejiwaan dalam Belajar Pendidikan Islam
Dalam proses pembelajaran PAI, ada aspek-aspek kejiwaan khas yang dikaji untuk memastikan materi agama meresap menjadi keyakinan dan perilaku sehari-hari: Fitrah Keagamaan (The Religious Instinct): Potensi bawaan anak untuk cenderung pada kebaikan dan ketauhidan.
Hati (Al-Qalb): Pusat pengendali emosi, intuisi, dan penerima hidayah. Belajar PAI tidak hanya melatih otak (akal), tetapi juga menyentuh hati. Nafsu (An-Nafs): Dorongan-dorongan internal manusia yang harus dikendalikan dan diarahkan melalui pendidikan akhlak.
Drajat, tokoh pelopor psikologi Islam di Indonesia, menekankan pentingnya kesehatan mental (mental hygiene) yang bersumber dari agama dalam proses belajar: "Anak yang memiliki kesehatan mental yang baik, yang didasarkan pada keyakinan agama yang kuat, akan memiliki motivasi belajar yang stabil, rasa percaya diri yang sehat, serta kemampuan adaptasi sosial yang tinggi di sekolah."(Drajat, 2016, hlm. 45)
4. Urgensi PPAI bagi Guru Pendidikan Agama Islam
Bagi seorang guru PAI, memahami ilmu ini sangat krusial agar metode pengajaran tidak bersifat doktriner atau kaku. Sebagaimana dijelaskan oleh Daradjat:"Guru Agama Islam yang memahami psikologi perkembangan anak tidak akan memaksakan konsep-konsep abstrak (seperti kiamat, surga, neraka) dengan cara yang menakutkan kepada anak usia dini. Mereka akan memilih pendekatan yang sesuai dengan dunia anak, yakni kasih sayang, kisah-kisah indah, dan keteladanan konkret."(Daradjat, 2017, hlm. 92)
E.Kesimpulan :
Pembelajaran pendidikan islam didesa desa di indonesia adalah bagian dari warisan para ulama NU. Ulama NU dengan mandiri untuk bagaimana adanay pendidikan agama islam sebagai bentuk kepedulian kepada anak anak untuk mencari ilmu dan mengamalkan pendidikan.
Demikian makalah ini kami sampaikan sebagai bentuk kepedulian pendidikan agama islam di desa Penyalahan, jatinegara kabuypaten tegal, kami yakin dengan penuh semangat akhrinya penulis melakukan penulisan makalah ini, penulisperlu banyak belajar dan melakukan riset lebih mendalam untuk perbaikan tulisan makalah ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Menurut Penulis, motivasi sebuah sifat atau tingkah laku manusia dalam menuju tujuan atau harapan disertai cita cita yang mulia untuk menuju sebuah tujuan atau cita cita selain itu, motivasi berdirinya MDTA Miftahuttholabah"Mencetak generasi Dukuh Santa yang tidak hanya cerdas secara intelektual di sekolah formal, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, santun dalam berperilaku, dan mandiri dalam beribadah." MDTA.
Daftar Pustaka,:
Santrock, J. W. (2018). Psikologi Pendidikan (Educational Psychology) (Edisi ke-6). Jakarta: Salemba Humanika.
Suryabrata, S. (2011). Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Sardiman, A. M. (2016). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Dimyati, & Mudjiono. (2015). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Ramayulis. (2018). Psikologi Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Muhaimin. (2019). Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Remaja Rosdakarya.
Daradjat, Zakiah. (2016). Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung.
Daradjat, Zakiah. (2017). Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Bumi Aksara.